jajal

jajal 1

Hasil Para Juara Lomba Ketrampilan siswa SMK se Kab Magelang

Kreatifitas memang tidak akan ada habisnya. selama manusia itu masih bernafas, sebuah kreatifitas akan terus berjalan layaknya mengalirnya darah ke dalam tubuh

2 Gunung yang selalu ada menemani

Merapi dan Merbabu adalah dua gunung yang tidak ada bosannya menemani setiap aktifitasku

Kebersamaan Di Bulan Ramadhan 1434 H

Mana Es buah, Ayam Goreng, dan santapan lainnya... ? hhh

Soulmate ku yang paling setia yaitu VESPA

Lelaki sejati selalu oper gigi pake tangan kiri. hihihi. VESPA banget.

Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Agustus 2013

pemrograman pak ari


-->#include
#include

void main()
{
int data[100],a,max;

cout<<" Masukkan Jumlah Data = ";cin>>max;
for (int x=1;x<=max;x++)
{
cout<<" Data Ke "<>data[x];
}

{
cout<cout<<"data sebelum di urut: \n";
cout<for(int k=1;k<=max;k++)
cout<cout<}

for(int i=1;i<=max-1;i++)
for(int j=1;j<=max-1;j++)
if ( data[j] > data[j+1])
{
a=data[j];
data[j]=data[j+1];
data[j+1]=a;
}

cout<cout<<"Data setelah diurutkan: \n ";
cout<for(int k=1;k<=max;k++)
cout<cout<getch();
}

pemrograman pak ari


-->#include
#include

void main()
{
int data[100],a,max;

cout<<" Masukkan Jumlah Data = ";cin>>max;
for (int x=1;x<=max;x++)
{
cout<<" Data Ke "<>data[x];
}

{
cout<cout<<"data sebelum di urut: \n";
cout<for(int k=1;k<=max;k++)
cout<cout<}

for(int i=1;i<=max-1;i++)
for(int j=1;j<=max-1;j++)
if ( data[j] > data[j+1])
{
a=data[j];
data[j]=data[j+1];
data[j+1]=a;
}

cout<cout<<"Data setelah diurutkan: \n ";
cout<for(int k=1;k<=max;k++)
cout<cout<getch();
}

Sabtu, 22 Januari 2011

materi etika profesi

materi etika profesi bisa di download disini

Selasa, 24 Agustus 2010

Rabu, 18 Agustus 2010

tugas sp 3 tg

klik disini nggeh

Kamis, 12 Agustus 2010

tugas SP teori graf

klik disini nih kalo mau download

Jumat, 16 Juli 2010

metopen


-->
1. Pedoman penomoran
a. Penomoran Bab serta subbab
- Bab dinomori dengan menggunakan angka romawi.
- Subbab dinomori dengan menggunakan angka latin dengan mengacu pada nomor bab/subbab dimana bagian ini terdapat.
II ………. (Judul Bab)
2.1 ………………..(Judul Subbab)
2.2 ………………..(Judul Subbab)
2.2.1 ………………(Judul Sub-Subbab)
- Penulisan nomor dan judul bab di tengah dengan huruf besar, ukuran font 14, tebal.
- Penulisan nomor dan judul subbab dimulai dari kiri, dimulai dengan huruf besar, ukuran font 12, tebal.
b. Penomoran Halaman
- Bagian Awal, nomor halaman ditulis dengan angka romawi huruf kecil (i,ii,iii,iv,…).Posisi di tengah bawah (2 cm dari bawah). Khusus untuk lembar judul dan lembar pengesahan, nomor halaman tidak perlu diketik, tapi tetap dihitung.
- Bagian Pokok, nomor halaman ditulis dengan angka latin. Halaman pertama dari bab pertama adalah halaman nomor satu. Peletakan nomor halaman untuk setiap awal bab di bagian bawah tengah, sedangkan halaman lainnya di pojok kanan atas.
- Bagian akhir, nomor halaman ditulis di bagian bawah tengah dengan angka latin dan merupakan kelanjutan dari penomoran pada bagian pokok
c. Nomor Gambar / Grafik / Tabel
Penomoran tergantung pada bab yang bersangkutan, contoh : gambar 3.1 berarti gambar pertama yang aga di bab III.
2.
3. Metode pengumpulan data
a. Observasi, diartikan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.
b. Angket atau kuesioner merupakan suatu teknik pengumpulan data secara tidak langsung (peneliti tidak langsung bertanya jawab dengan responden)
c. Wawancara informasi merupakan salah satu metode pengumpulan data untuk memperoleh data dan informasi dari siswa secara lisan.
d. Studi dokumenter merupakan merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menghimpun dan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis,gambar maupun elektronik.
Cara memperoleh informasi
a.
4. Kutipan digunakan untuk melengkapi bahan-bahan dan memerkuat uraian atau argumen sejauh yang diperlukan penulis, terutama pada kerangka konseptual atau kajian pustaka.
a. kutipan langsung
1. Kutipan yang kurang atau sama dengan 4 baris ditulis sebagai berikut :

·Disatukan dengan teks
· Ditulis dalam tanda kutip ( “…….” )
· Jarak antar kutipan 2 spasi
· Pada akhir kutipan dituliskan databuku yang diletakkan dalam kurung atau dengan menuliskan nomor rujukan catatan kaki.
2. Kutipan Langsung yan lebih dari 4 baris,tata caranya sebagai berikut :
· Tidak disatukan dengan teks,tetapi dipisah dengan jarak 2,5 spasi
· Ditulis dengan spasi rapat ( satu spasi )
· Ditulis dengan menjorok ke kanan 5 karakter,danjika alinea baru berarti menjorok ke kanan 10 karakter
· Pada akhir kutipan diberi nomor penunjuk ( untuk diberi penjelasan pada catatan kaki tau diberi catatan langsung ( catatan perut )
Contoh :
Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan berpikir dan nurani manusia.oleh karena itu,manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan .

“……pengetahuan yang disampaikan-Nya [ sic! ] merupakan kebenaran yang tidak perlu disangsikan lagi.Dengan katalain bahwa sesuatu yang disampaikan itu halnya memang delikian,tidak mungkin lain.kebenaran itu merupakan kebenaran mutlak……”1)

b. kutipan tidak langsung.

Dalam kutipan tidak langsung kita hanya mengambil intisari pendapat yang kita kutip.Kutipan tidak langsung ditulis menyatu dengan teks yang kita buat dan tidak usah diapit tanda petik.Penyebutan sumber dapat dengan sistem catatan kaki,dapat juga dengan sistem catatan langsung ( catatan perut ) seperti telah dicontohkan.
Contoh: :
Tidak semua masalah dapat dipecahkan dengan kemampuan berpikir dan nurani manusia.oleh karena itu,manusia memerlukan sumber kebenaran yang berupa wahyu Tuhan.Kebenaran itu harus bersifat mutlak dan sebagai manusia kita harus menyakininya.
6. a. Editing, Dilakukan dengan cara meneliti kembali data yang terkumpul dari penyebaran kuesioner
b.Coding dilakukan sebagai usaha menyederhanakan data yaitu dengan memberi simbol angka pada masing-masing kategori jawaban dari seluruh responden
c. Tabulasi, Tabulasi merupakan kegiatan menggambarkan jawaban responden dengan cara tertentu
d. Analyzing
e. flowchart adalah untuk menggambarkan suatu tahapan penyelesaian masalah secara sederhana, terurai, rapi dan jelas dengan menggunakan simbol-simbol standart.

Selasa, 22 Juni 2010

TRANSMISI ASYNCHRONOUS DAN SYNCHRONOUS

3.1. TRANSMISI ASYNCHRONOUS DAN SYNCHRONOUS
Data ditransfer melalui path komunikasi tunggal pada transmisi data secara serial dimana tiap elemen pensinyalan dapat berupa :
3.1.1. Kurang dari 1 bit : misalnya dengan pengkodean Manchester
3.1.2. 1 bit : NRZ-L dan FSK adalah contoh-contoh analog dan digital
3.1.3. Lebih dari 1 bit : QPSK sebagai contohnya.
Dalam bahasan ini, kita menganggap satu bit per elemen pensinyalan kecuali jika keadaan sebaliknya.
Synchronisasi adalah salah satu tugas utama dari komunikasi data. Suatu transmitter mengirim message 1 bit pada suatu waktu melalui suatu medium ke receiver. Receiver arus mengenal awal dan akhir dari blok-blok bit dan juga harus mengetahui durasi dari tiap bit sehingga dapat men-sampel line tersebut dengan timing yang tepat untuk membaca tiap bit. Misalkan pengirim (sender) mentransmisi sejumlah bit-bit data. Pengirim mempunyai suatu clock yang mempengaruhi timing dari transmisi bit-bit. Sebagai contoh, jika data ditransmisi dengan 10000 bits per second (bps), kemudian 1 bit akan ditransmisi setiap 1/10000 = 0,1 millisecond (ms), sebagai yang diukur oleh clock pengirim. Maka, receiver akan menentukan waktu yang cocok untuk sampel-sampelnya pada interval dari 1 bit time. Pada contoh ini, pen-sampling-an akan terjadi sekali setiap 0,1 ms. Jika waktu pen-sampling-an berdasarkan pada clocknya sendiri, maka akan timbul masalah jika clock-clock transmitter dan reciver tidak disamakan dengan tepat. Jika ada perbedaan 1 persen (clock receiver 1 persen lebih cepat atau lebih lambat daripada clock transmitter), maka pen-sampling-an pertama 0,001 ms meleset dari tengah bit (tengah bit adalah 0,05 ms dari awal dan akhir bit). Setelah sampel-sampel mencapai 50 atau lebih, receiver akan error karena pen-sampling-annya dalam bit time yang salah (50 x 0,001 = 0,05 ms). Untuk perbedaan timing yang kecil, error akan terjadi kemudian, tetapi kemudian receiver akan keluar dari step transmitter jika transmitter mengirim aliran bit yang panjang dan jika tidak ada langkah-langkah yang men-synchron-kan transmitter dan receiver.

TRANSMISI ASYNCHRONOUS
Strategi dari metode ini yaitu mencegah problem timing dengan tidak mengirim aliran bit panjang yang tidak putus -putusnya. Melainkan data ditransmisi per karakter pada suatu waktu, dimana tiap karakter adalah 5 sampai 8 bit panjangnya. Timing atau synchronisasi harus dipertahankan antara tiap karakter; receiver mempunyai kesempatan untuk men-synchron-kan awal dari tiap karakter baru.
Gambar 3.1 menjelaskan suatu contoh untuk teknik ini.

Gambar 3.1 Teknik Asynchronous

Gambar 3.1a, ketika tidak ada transmisi karakter, line antara transmitter dan receiver dalam keadaan "idle". Idle adalah ekuivalen untuk elemen pensinyalan bagi binary '1'.
Awal dari suatu karakter diisyaratkan oleh suatu start bit dengan binary '0'. Kemudian diikuti oleh 5 sampai 8 bit yang membentuk karakter tersebut. Bit-bit dari karakter itu ditransmisi dengan diawali least significant bit (LSB). Biasanya, bit-bit karakter ini diikuti oleh suatu parity bit yang berada pada posis i most-significant-bit (MSB).

Parit bit tersebut diset oleh transmitter sedemikian seperti total jumlah binary '1' dalam karakter; termasuk parity bit-nya, adalah genap (even parity) atau ganjil (odd parity), tergantung pada konversi yang dipakai. Elemen terakhir yaitu stop, yang merupakan suatu binary '1'. Panjang minimum dari stop biasanya 1;1,5 atau 2 kali durasi dari bit. Sedangkan maksimumnya tidak dispesifikasikan. Karena stop sama dengan kondisi idle, maka transmitter akan melanjutkan transmisi sinyal stop sampai siap untuk mengirim karakter berikutnya.

Gambar 3.1c memperlihatkan efek timing error yang menyebabkan error pada penerimaan. Disini dianggap bahwa data ratenya 10000 bps; oleh karena itu tiap bit mempunyai durasi 0,1 ms atau 100 s. Anggaplah receiver terlambat 7 persen atau 7 s per bit time. Dengan demikian receiver men-sampel karakter yang masuk setiap 93 s (berdasarkan pada clock transmitter). Seperti terlihat, sampel terakhir mengalami error. Sebenarnya error ini menghasilkan dua macam error : pertama, sampel bit terakhir diterima tidak tepat; kedua, perhitungan bit sekarang keluar dari kesepakatan.
Jika bit ke 7 adalah 1 dan bit ke 8 adalah 0 maka bit 8 akan dianggap suatu start bit. Kondisi ini diistilahkan framing error, yaitu karakter plus start dan stop bit yang kadang-kadang dinyatakan suatu frame. Framing error juga jika beberapa kondisi noise menyebabkan munculnya kesalahan dari suatu start bit selama kondisi idle.
Komunikasi asynchronous adalah sederhana dan murah tetapi memerlukan tambahan 2 sampai 3 bit per karakter untuk synchronisasi. Persentase tambahan dapat dikurangi dengan mengirim blok-blok bit yang besar antara start dan stop bit, tetapi akan memperbesar kumulatif timing error. Solusinya yaitu transmisi synchronous.

TRANSMISI SYNCHRONOUS
Dengan transmisi synchronous, ada level lain dari synchronisasi yang perlu agar receiver dapat menentukan awal dan akhir dari suatu blok data. Untuk itu, tiap blok dimulai dengan suatu pola preamble bit dan diakhiri dengan pola postamble bit. Pola-pola ini adalah kontrol informasi.

Frame adalah data plus kontrol informasi. Format yang tepat dari frame tergantung dari metode transmisinya, yaitu :
3.1.1. Transmisi character-oriented, (lihat gambar 3.2a)

Blok data diperlakukan sebagai rangkaian karakter-karakter (biasanya 8 bit karakter).
Semua kontrol informasi dalam bentuk karakter.
Frame dimulai dengan 1 atau lebih 'karakter synchronisasi' yang disebut SYN, yaitu pola bit khusus yang memberi sinyal ke receiver bahwa ini adalah awal dari suatu blok. Sedangkan untuk postamble-nya juga dipakai karakter khusus yang lain. Jadi receiver diberitahu bahwa suatu blok data sedang masuk, oleh karakter SYN, dan menerima data tersebut sampai terlihat karakter postamble. Kemudian menunggu pola SYN yang berikutnya. Alternatif lain yaitu dengan panjang frame sebagai bagian dari kontrol informasi; receiver menunggu karakter SYN, menentukan panjang frame, membaca tanda sejumlah karakter dan kemudian menunggu karakter SYN berikutnya untuk memulai frame berikutnya.
3.1.2. Transmisi bit-oriented , (lihat gambar 4.2b)
Blok data diperlakukan sebagai serangkaian bit-bit.
Kontrol informasi dalam bentuk 8 bit karakter.
Pada transmisi ini, preamble bit yang panjangnya 8 bit dan dinyatakan sebagai suatu flag sedangkan postamble-nya memakai flag yang sama pula.

Receiver mencari pola flag terhadap sinyal start dari frame. Yang diikuti oleh sejumlah kontrol field. Kemudian sejumlah data field, kontrol field dan akhirnya flag-nya diulangi.
Perbedaan dari kedua metode diatas terletak pada format detilnya dan kontrol informasinya.
Keuntungan transmisi synchronous :
• Efisien dalam ukuran blok data; transmisi asynchronous memerlukan 20% atau lebih tambahan ukuran.
• Kontrol informasi kurang dari 100 bit.

Gambar 3.2 Transmisi Asynchronous

Kamis, 09 Juli 2009

iki tugas pak tusi

nyoh download dewe

Rabu, 01 Juli 2009

pemrograman pak ari


-->#include
#include

void main()
{
int data[100],a,max;

cout<<" Masukkan Jumlah Data = ";cin>>max;
for (int x=1;x<=max;x++)
{
cout<<" Data Ke "<>data[x];
}

{
cout<cout<<"data sebelum di urut: \n";
cout<for(int k=1;k<=max;k++)
cout<cout<}

for(int i=1;i<=max-1;i++)
for(int j=1;j<=max-1;j++)
if ( data[j] > data[j+1])
{
a=data[j];
data[j]=data[j+1];
data[j+1]=a;
}

cout<cout<<"Data setelah diurutkan: \n ";
cout<for(int k=1;k<=max;k++)
cout<cout<getch();
}

Sabtu, 02 Mei 2009

Laporan Tugas Akhir TKJ SMK 2 Temanggung

mau lihat file laporan TAku, klik disini...

Rabu, 22 April 2009

iki ju woconen...!

nek arep mbuka file, klik disini.
trus woco halaman 5 sing judule menghitung invers matrik

Rabu, 15 April 2009

tugas algoritma dan pemrograman pak hendradi